Jakarta “Ditegur”
Berikut ada kutipan dari artikel menarik:
(Basri, Faisal. 2007. "Bencana Banjir". Kompas, 12 Februari)
Banjir menegur
Jakarta yang masih saja tamak dan pongah, enggan berbagi dengan
daerah-daerah lain, bahkan cenderung menyalahkan mereka. Jakarta terus
saja mempercantik wajah dengan kosmetik berlebihan sehingga menjelma
seperti "topeng monyet" yang semakin beringas.
Itulah
sosok Jakarta yang dibangun dengan terlalu eksesif mengedepankan modal
fisik. Sementara modal manusia, modal sosial, dan modal spiritualnya
terus menerus tergerus.
Jakarta
masih berencana membangun enam ruas jalan tol baru. Pembangunan
pusat-pusat belanja berskala kecil hingga mega terus marak di seluruh
wilayah, termasuk pula yang berlokasi di jantung kota. Demikian pula
dengan pembangunan puluhan apartemen pencakar langit yang kian marak.
Kesemuanya dibangun dengan tidak lagi mengindahkan kaidah lingkungan
dan penyediaan fasos-fasum.
Sebagai
Ibu Kota negara yang menyandang predikat kota modern, seharusnya
Jakarta telah mengalami transformasi menjadi kota jasa modern yang
mampu menciptakan kegiatan produktif yang bernilai tambah tinggi.
Pemerintah kota bisa secara aktif menawarkan mekanisme insentif agar
pabrik-pabrik yang bernilai tambah rendah bersedia keluar Jakarta
secara sukarela.
Hmm…
Rumit (dan Geram) yah, ngeliat Jakarta??